Rabu, 26 Desember 2012

RIVIEW II : PROFIL KOPERASI WANITA SETIA BHAKTI WANITA SURABAYA JAWA TIMUR


RIVIEW II :
PROFIL KOPERASI WANITA SETIA BHAKTI WANITA
SURABAYA JAWA TIMUR

Oleh :
Riana Panggabean*

Berisi :
Permodalan

Permodalan
            Permodalan koprasi ini bersal dari modal sendiri yaitu simpanan anggota dan modal luar. Modal laur bersumber dari Bank, sampai saat penelitian mitra bank koprasi ini terdiri dari Bank : Mandiri, Bukopin, Bank Putra dan Bnak Muamalat Indonesia. Komposisi permodalan sampai tahun 2002 adalah 45 persen modal sendiri dan 55 persen modal luar. Simpanan dari bank di peroleh dengan menggunakan kantor sebagai jaminan. Bahwa struktur permodalan Koprasi ini dari tahun 1999 sampai tahun 2001 cukup baik karena modal sendiri sellau lebih besar dari modal luar. Kemudian tahun 2002 struktur modal berubah modal luar lebih besar dari modal sendiri. Struktur modal ini perlu di cermati untuk pengembangan usaha koprasi lebih lanjut. Di lihat dari pertumbuhan modal sendiri selama 10 tahun berjalan cukup nyata yaitu dari Rp.2.761.724.000,- menjadi Rp.20.186.078.000 atau meningkat menjadi Rp.17.424.354.000,- atau 6,3 kali. Demikian juga modal luar meningkat 21 kali lipat dar Rp.1.145.523.000,- menjadi Rp.24.026.494.000,- (200,1%).

Pengelola Usaha
            Usaha kopwan ini cukup spesifik yang di kenal dengan usaha simpan pinjam system tanggung renteng. Perkembangan usaha ini mendorong timbulnya unit usaha baru seperti uasaha unit swalayan dan unit usaha untuk  Usaha Kecil Menengah.
1.      Sistem Tanggung Renteng
System tanggung renteng yang di kembangkan pda koprasi ini di laksanakn sebagai berikut: (1) anggota di kelompokan sesuai dengan jenis usaha meliputi kelompok bakul jamu, prancangan hingga intektual. (2) syarat penunjang pinjaman dari kelompok (anggota kelompok) ini merupakan syarat boleh tidaknya seseorang meminjam, (3) jumlah kelompok minimal 15orang dan maksimal 30 orang, (4) setiap kelompok wajib mengadakan pertemuan setiap bulan. Di dalam pertemuan inilah anggota membahas semua kebutuhan dan memecahkan masalah dan pada saat ini terjadi transaksi pinjaman dan pembayaran di lakukan. Melalui  kelompok ini terjadi transaksi pinjaman dan pembayaran kewajiban kemudian kelompok menyetor ke koprasi (5) semua kesepakatan dalam kelompok diputuskan melalui musyawarah, hasil musyawarah inilah adalah kesepakatan bersama yang menjadi rambu-rambu aturan yang di berlakukan, sehingga antar kelompok harus saling mengenal kalu tidak si peminjam tidak akan mendapat pinjaman. Dengan demikian kedekatan dan saling mengenal serta saling mempertahankan terjadi di dalam kelompok. Musyawarah dalam kelompok di lakukan untuk menentukan pinjaman. Jadi ketika anggota meminjam anggota lain mengetahui dan jika semua setuju semua anggota kelompok harus menandatangani surat pengajuan pinjaman (SSP). Tandatangan itu sebagai bukti setuju. Bagaimana jika ada anggota yang lalai terhadap kewajiban, permasalahn di tunjukan pada waktu pertemuan kelompok di sana dia menjelaskan masalah. Setelah di ketahui semua anggota kelompok sepakat untuk menalangi utang tersebut dari uang kas kelompok dan yang bersangkutan di minta mencicil berapa bulan. Dengan demikian beban dan tanggung jawab terjadi, sehingga tunggakan dalam kelompok rata-rata nihil. Inilah hakekat system tanggung renteng. Intinya adalah kebersamaan, kesepakatan, slaing percaya dan saling mengenal anggota dalam kelompok. Jadi dalam Kopwan yang menjadi focus pembinaan adalah kedisiplinan, saling percaya, musyawarah dan kebersamaan. Inilah kunci-kunci dasar dari organisasi ini.

2.      Unit Swalayan
Setelah 5 tahun Kopwan berjalan telah berhasil mendirikan unit Swalayan untuk melayani anggota maupun masyarakat sektarnya. Omzet swalayan ini rata-rata Rp.588 juta per bulan. Anggota bebas berbelanja secara tunai maupun kredit sebagai mana di swalayan lainnya. Untuk anggota yang menggunakan kredit di beri plafon Rp.300.000 per bulan dan bagi anggota yang memiliki took atau perancangan juga di beri pinjaman sebesar Rp.1.000.000 sampai Rp.2.500.000.
3.      Unit Peminjaman Untuk Usaha Kecil dan Menengah
Selain usaha simpan pinjamdan swalayan kopwan juga mengembangkan usaha pinjaman bagi anggota yang mau dan berusaha. Pemberian pinjaman di prioritaskan kepada anggota yang memiliki usaha yang berjalan. Karena untuk usaha pinjaman di beri persyaratan memberikan jaminan atau agunan. Tingkat bunga sebesar 2% flat per bulan, pinjaman seperti ini di berikan kepada individu. Sampai bulan desember 2006 telah di kucurkan kredit sebesar Rp.1,6 milyar untuk 338 UKM.
4.      Sasaran dan Prasarana
Sebelum mempunyai gedung sendiri Koprasi menyewa kantor milik Puskowanjati  di jalam Panglima Sudirman. Sesuai dengan perkembangannya pada tahun 1996, Koprasi ini memliki gedung berlantai dua di atas tanah seluas 1.400 meter. Sember dana untuk pembangunan ini berasal dari 6.000 anggota masing Rp.16.000 per-orang di angsur selama 5 bulan. Kemudian tahun 2003 Koprasi memperluas gedung dengan membeli sebidang tanah di wilayah yang sama. Sumber dana kembali berasal dari anggota. Dengan bertambahnya luas tanah tersebut Koprasi merenivasi unit took menjadi swalayan. Keputusan untuk membangun gedung gedung tetap meminta persetujuan para anggotanya. Sampai tahun 2006 jumlah anggtanya mencapai 10.000 lebih dengan total assets Rp.81,2 milyar, volume usaha Rp.101 milyar artinya omset masing-masing anggota rata-rata Rp.8,4 mulyar. Jika di bandingkan dengan total modal pada tahun 2002 sebesar Rp.45.358.095.000 maka perpuran modal akhir bulan 2006 hampir 2 kali lipat.
5.      Dampak Koprasi Terhadap Lingkungan
Dampak kopwan terhadap lingkungan antara lain (1) Kopwan telah berhasil memenuhi kebutuhan social anggotanya untuk sumbangan temporer sebagai bentuk kepedulian bagi sesama. Untuk ini di lakukan melalui penyisihan 3% daru SHU sedangkan (2) Kepedulian social terhadap masyarakat miskin, pendidikan anak-anak anggota diupayakan melalui beasiswa di tingkat SD hingga SMU, disisihkan melalui SHU sebesar 2,5%, (3) Dampak Kopwan secara eksternal sudah sangat meluas yaitu kopwan telah berhasil emnjadi wadah belajar bagi koprasi lainnya yang berusaha dalam usaha simpan pinjam, menunjukan koprasi lain dan pengusaha baru,sebanyak 338 unit. Untuk mrenumbuhkan koprasi Contoh timbulnya koprasi wnaita Panggayo Maji di Ambon.


Penutup
            Koprasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur telah berhasil emngangkat jadi diri koprasi wanita dan koprasi pada umumnya. Keberhasilan koprasi ini di topang oleh kebesaran, keuletan, kerjasama untuk saling membantu antara pengurus dan anggota.
            Para pengurus menjabarkan visi dan misinya pada implementasi oprasional pelayanan koprasi di dikung oleh kualitas sumber daya manusia yang dapat menimbulkan kehidupan yang lebih bertanggung jawab (mandiri) dan berkesinambungan. Koprasi telah berdampak positif terhadap anggota maupun masyarakat disekitarnya serta menjadi wadah pendidikan bagi koprasi lain.

Daftar Pustaka
Alvin A, Goldberg Carli. E Larson, (1985). Kelompok Proses-Proses Diskusi dan Penerapan. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press) Jakarta.
Hanel Alfred, (2005). Organisasi Koprasi. Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Organisasi Koprasi dan Kebijakan Pengembangan di Negara-Negara Berkembang. Graha Ilmu Yogyakarta.
Koprasi Wanita Setia Bhakti, (2006). Rapat Anggota Tahunan. Surabaya .
Mentru Negara koprasi dan UKM RI. Kumpulan Kebijakan Bantuan Perkuatan dan Petunjuk Teknis Program Pembiayayaan Produktif Koprasi dan Usaha Mikro (P3KUM) Pola Konvensional.
Lawang Robert M.Z., (1985), Buku Materi Ppengantar Sosiologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Unuversitas Terbuka.
Lexy. J Moleong, (1983), Metode Penelitian Kuantitatif. Penerbit PT.Remaja Rosdakarya” Bandung.
Roy, Ewel, Paul, (1989), Cooperatives Today And Tomorrow. The Interstate Printers & Publishers. Inc Dovelle Illionis.
Robert J Kilber W Waston, Katty J Whalers Larry, L Barker, (1993), Groups In Process An Introduction to Small Group Comunication. Prentice Hall, Inc. Engowood Clitfs. New. Jersev.
Syahriman Syamsu, M.Yusril, FX Suwarto, (1990), Dinamika Kelompok dan kepemimpinan. Universitas Atmajaya Ypgyakarta.
Singarimbun, Masri dan Efendi Sofyan, (1998). Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta.
Toha Miftah, (1989), Pembinaan Organisasi Proses Diagnosa dan Intervensi, rajawali Pers Jakarta.
Winardi J.. (2003), Teori Organisasi dan Pengorganisasian, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.


Nama/NPM : Karlina Indah Purwanti/ 23211908
Kelas/TAHUN : 2EB09 / 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar