RIVIEW
II :
PROFIL
KOPERASI WANITA SETIA BHAKTI WANITA
SURABAYA
JAWA TIMUR
Oleh :
Riana Panggabean*
Berisi :
Permodalan
Permodalan
Permodalan koprasi ini bersal dari
modal sendiri yaitu simpanan anggota dan modal luar. Modal laur bersumber dari
Bank, sampai saat penelitian mitra bank koprasi ini terdiri dari Bank :
Mandiri, Bukopin, Bank Putra dan Bnak Muamalat Indonesia. Komposisi permodalan
sampai tahun 2002 adalah 45 persen modal sendiri dan 55 persen modal luar.
Simpanan dari bank di peroleh dengan menggunakan kantor sebagai jaminan. Bahwa
struktur permodalan Koprasi ini dari tahun 1999 sampai tahun 2001 cukup baik
karena modal sendiri sellau lebih besar dari modal luar. Kemudian tahun 2002
struktur modal berubah modal luar lebih besar dari modal sendiri. Struktur
modal ini perlu di cermati untuk pengembangan usaha koprasi lebih lanjut. Di
lihat dari pertumbuhan modal sendiri selama 10 tahun berjalan cukup nyata yaitu
dari Rp.2.761.724.000,- menjadi Rp.20.186.078.000 atau meningkat menjadi Rp.17.424.354.000,-
atau 6,3 kali. Demikian juga modal luar meningkat 21 kali lipat dar
Rp.1.145.523.000,- menjadi Rp.24.026.494.000,- (200,1%).
Pengelola
Usaha
Usaha kopwan ini cukup spesifik yang
di kenal dengan usaha simpan pinjam system tanggung renteng. Perkembangan usaha
ini mendorong timbulnya unit usaha baru seperti uasaha unit swalayan dan unit
usaha untuk Usaha Kecil Menengah.
1.
Sistem
Tanggung Renteng
System tanggung renteng yang di
kembangkan pda koprasi ini di laksanakn sebagai berikut: (1) anggota di
kelompokan sesuai dengan jenis usaha meliputi kelompok bakul jamu, prancangan
hingga intektual. (2) syarat penunjang pinjaman dari kelompok (anggota
kelompok) ini merupakan syarat boleh tidaknya seseorang meminjam, (3) jumlah
kelompok minimal 15orang dan maksimal 30 orang, (4) setiap kelompok wajib
mengadakan pertemuan setiap bulan. Di dalam pertemuan inilah anggota membahas
semua kebutuhan dan memecahkan masalah dan pada saat ini terjadi transaksi
pinjaman dan pembayaran di lakukan. Melalui kelompok ini terjadi transaksi pinjaman dan
pembayaran kewajiban kemudian kelompok menyetor ke koprasi (5) semua
kesepakatan dalam kelompok diputuskan melalui musyawarah, hasil musyawarah
inilah adalah kesepakatan bersama yang menjadi rambu-rambu aturan yang di berlakukan,
sehingga antar kelompok harus saling mengenal kalu tidak si peminjam tidak akan
mendapat pinjaman. Dengan demikian kedekatan dan saling mengenal serta saling
mempertahankan terjadi di dalam kelompok. Musyawarah dalam kelompok di lakukan
untuk menentukan pinjaman. Jadi ketika anggota meminjam anggota lain mengetahui
dan jika semua setuju semua anggota kelompok harus menandatangani surat
pengajuan pinjaman (SSP). Tandatangan itu sebagai bukti setuju. Bagaimana jika ada
anggota yang lalai terhadap kewajiban, permasalahn di tunjukan pada
waktu pertemuan kelompok di sana dia menjelaskan masalah. Setelah di ketahui
semua anggota kelompok sepakat untuk menalangi utang tersebut dari uang kas
kelompok dan yang bersangkutan di minta mencicil berapa bulan. Dengan demikian
beban dan tanggung jawab terjadi, sehingga tunggakan dalam kelompok rata-rata
nihil. Inilah hakekat system tanggung renteng. Intinya adalah kebersamaan,
kesepakatan, slaing percaya dan saling mengenal anggota dalam kelompok. Jadi
dalam Kopwan yang menjadi focus pembinaan adalah kedisiplinan, saling percaya,
musyawarah dan kebersamaan. Inilah kunci-kunci dasar dari organisasi
ini.
2.
Unit
Swalayan
Setelah 5 tahun Kopwan berjalan
telah berhasil mendirikan unit Swalayan untuk melayani anggota maupun
masyarakat sektarnya. Omzet swalayan ini rata-rata Rp.588 juta per bulan.
Anggota bebas berbelanja secara tunai maupun kredit sebagai mana di swalayan
lainnya. Untuk anggota yang menggunakan kredit di beri plafon Rp.300.000 per
bulan dan bagi anggota yang memiliki took atau perancangan juga di beri
pinjaman sebesar Rp.1.000.000 sampai Rp.2.500.000.
3.
Unit
Peminjaman Untuk Usaha Kecil dan Menengah
Selain usaha simpan pinjamdan
swalayan kopwan juga mengembangkan usaha pinjaman bagi anggota yang mau dan
berusaha. Pemberian pinjaman di prioritaskan kepada anggota yang memiliki usaha
yang berjalan. Karena untuk usaha pinjaman di beri persyaratan memberikan
jaminan atau agunan. Tingkat bunga sebesar 2% flat per bulan, pinjaman seperti
ini di berikan kepada individu. Sampai bulan desember 2006 telah di kucurkan
kredit sebesar Rp.1,6 milyar untuk 338 UKM.
4.
Sasaran
dan Prasarana
Sebelum mempunyai gedung sendiri
Koprasi menyewa kantor milik Puskowanjati
di jalam Panglima Sudirman. Sesuai dengan perkembangannya pada tahun
1996, Koprasi ini memliki gedung berlantai dua di atas tanah seluas 1.400
meter. Sember dana untuk pembangunan ini berasal dari 6.000 anggota masing
Rp.16.000 per-orang di angsur selama 5 bulan. Kemudian tahun 2003 Koprasi
memperluas gedung dengan membeli sebidang tanah di wilayah yang sama. Sumber
dana kembali berasal dari anggota. Dengan bertambahnya luas tanah tersebut
Koprasi merenivasi unit took menjadi swalayan. Keputusan untuk membangun gedung
gedung tetap meminta persetujuan para anggotanya. Sampai tahun 2006 jumlah
anggtanya mencapai 10.000 lebih dengan total assets Rp.81,2 milyar, volume
usaha Rp.101 milyar artinya omset masing-masing anggota rata-rata Rp.8,4
mulyar. Jika di bandingkan dengan total modal pada tahun 2002 sebesar
Rp.45.358.095.000 maka perpuran modal akhir bulan 2006 hampir 2 kali lipat.
5.
Dampak
Koprasi Terhadap Lingkungan
Dampak kopwan terhadap lingkungan
antara lain (1) Kopwan telah berhasil memenuhi kebutuhan social anggotanya
untuk sumbangan temporer sebagai bentuk kepedulian bagi sesama. Untuk ini di
lakukan melalui penyisihan 3% daru SHU sedangkan (2) Kepedulian social terhadap
masyarakat miskin, pendidikan anak-anak anggota diupayakan melalui beasiswa di
tingkat SD hingga SMU, disisihkan melalui SHU sebesar 2,5%, (3) Dampak Kopwan
secara eksternal sudah sangat meluas yaitu kopwan telah berhasil emnjadi wadah
belajar bagi koprasi lainnya yang berusaha dalam usaha simpan pinjam,
menunjukan koprasi lain dan pengusaha baru,sebanyak 338 unit. Untuk
mrenumbuhkan koprasi Contoh timbulnya koprasi wnaita Panggayo Maji di Ambon.
Penutup
Koprasi Wanita Setia Bhakti Wanita
Jawa Timur telah berhasil emngangkat jadi diri koprasi wanita dan koprasi pada
umumnya. Keberhasilan koprasi ini di topang oleh kebesaran, keuletan, kerjasama
untuk saling membantu antara pengurus dan anggota.
Para pengurus menjabarkan visi dan
misinya pada implementasi oprasional pelayanan koprasi di dikung oleh kualitas
sumber daya manusia yang dapat menimbulkan kehidupan yang lebih bertanggung
jawab (mandiri) dan berkesinambungan. Koprasi telah berdampak positif terhadap
anggota maupun masyarakat disekitarnya serta menjadi wadah pendidikan bagi
koprasi lain.
Daftar
Pustaka
Alvin A, Goldberg Carli. E
Larson, (1985). Kelompok Proses-Proses
Diskusi dan Penerapan. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press) Jakarta.
Hanel Alfred, (2005). Organisasi Koprasi. Pokok-Pokok Pikiran
Mengenai Organisasi Koprasi dan Kebijakan Pengembangan di Negara-Negara
Berkembang. Graha Ilmu Yogyakarta.
Koprasi Wanita Setia Bhakti,
(2006). Rapat Anggota Tahunan.
Surabaya .
Mentru Negara koprasi dan UKM RI.
Kumpulan Kebijakan Bantuan Perkuatan dan Petunjuk Teknis Program Pembiayayaan
Produktif Koprasi dan Usaha Mikro (P3KUM) Pola Konvensional.
Lawang Robert M.Z., (1985), Buku Materi Ppengantar Sosiologi.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Unuversitas Terbuka.
Lexy. J Moleong, (1983), Metode Penelitian Kuantitatif. Penerbit
PT.Remaja Rosdakarya” Bandung.
Roy, Ewel, Paul, (1989), Cooperatives Today And Tomorrow. The
Interstate Printers & Publishers. Inc Dovelle Illionis.
Robert J Kilber W Waston, Katty J
Whalers Larry, L Barker, (1993), Groups
In Process An Introduction to Small Group Comunication. Prentice Hall, Inc.
Engowood Clitfs. New. Jersev.
Syahriman Syamsu, M.Yusril, FX
Suwarto, (1990), Dinamika Kelompok dan
kepemimpinan. Universitas Atmajaya Ypgyakarta.
Singarimbun, Masri dan Efendi
Sofyan, (1998). Metode Penelitian Survey,
LP3ES, Jakarta.
Toha Miftah, (1989), Pembinaan Organisasi Proses Diagnosa dan
Intervensi, rajawali Pers Jakarta.
Winardi J.. (2003), Teori Organisasi dan Pengorganisasian,
PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Nama/NPM : Karlina Indah
Purwanti/ 23211908
Kelas/TAHUN : 2EB09 / 2012
Kelas/TAHUN : 2EB09 / 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar