Rabu, 26 Desember 2012

RIVIEW II : KOPRASI UNTUK MEWUJUDKAN KEBERSAMAAN DAN KESEJAHTERAAN*

RIVIEW II :
KOPRASI UNTUK MEWUJUDKAN
KEBERSAMAAN DAN KESEJAHTERAAN*

Oleh :
Noer Soetisno

Berisi :
Determinan Kemajuan Koprasi


Determinan Kemajuan Koprasi
Pada saat ini dengan globalisasi dan runtuhnya perekonomian sosialis di Eropa Timur serta terbukanya Afrika, maka gerakan koprasi di dunia telah mencapai suatu status yang menyatu di s eluruh dunia. Dimasa lalu jangkauan pertukaran pengakan gerakan koprasi di batasi oleh blok politik/ekonomi, sehungga orang berbicara koprasi sering dengan penegrtian berbeda. Meskipun haingga tahun 1960-an konsep gerakan koprasi belum mendapat kesepakatan secara internasional, namun dengan lahirnya Revolusi ILO-127 tahun 1966 maka dasar pengembangan koprasi mulai di gunakakn dengan tekanan pada saat itu adalah memanfaatkan model koprasi sebgai wahana promosi kesejahteraan masyarakat, terutama kaum pekerja yang ketika itu kental dengan sebutan kaum buruh. Sehingga syarat yang di tekankan bagi keanggotaan koprasi adalah “ Kemampuan untuk memanfaatkan jasa koprasi”. Dalam hal ini resolusi tersebut telah mendorong timbulnya program-program pengembangan koprasi yang lebih sistematis dan di galang secara internasional.
Pada tahun 1980-an koprasi dunia mulai gelisah dengan proses globalisasi dan liberalisasi ekonomi di mana-mana, sehingga berbagai langkah pengkajian ulang kekuatan koprasi di lakukan. Hingga tahun 1992 Koprasi ICA di Tokyo memulai pidato ICA (Lars Marcus) masih melihat perlunya koprasi melihat pengalaman swasta, bahkan laporan Sven Akheberg menganjurkan agar koprasi mennikuti layaknya “ private enterprise”.2 Namun dalam perdebatan Tokyo melahirkan kesepakatan untuk mendalami kembali semangat koprasi dan mencari kekuatan gerakan koprasi serta kembali kepada, sebab didiriannya koprasi. Setahun kemudian Presiden ICA saat ini Roberto Barberini menyatakan koprasi harus hidup dalam suasana untuk mendapatkan perlakuan yang sama “equal treatment” sehingga apa yang dapat di kerjakan oleh perusahaan lain juga harus terbuka bagi koprasi (ICA, 2002). Koprasi kuat karena menganut ”established for last”. Pada tahun 1995 gerakan koprasi menyelenggaran Kongres koprasi di Manchaster Inggris dan melahirkan suatu landasan baru yang dinamakan International Cooperative Identity Statement (ICIS) yang menjadi dasar tentang pengertian prinsip dan nilai dasar koprasi untuk menjawab tentang globalisasi. Patut di catat 1 hal bahwa kerisauan tentang globalisasi dan liberalisasi perdagangan di berbagai Negara terjawab oleh gerakan koprasi dengan kembali pada jati diri, namun pengertian koprasi  sebagai ”enterprise” di cantumkan secara eksplisit. Dengan demikian mengakhiri perdebatan apakah koprasi lembaga bisnis atau lembaga ”quasisosial”. Dan sejak itu semangat untuk mengembangkan koprasi terus menggelora di berbagai system ekkonomi yang semula tertutup kini terbuka. Dari sini dapat di tarik catatan bahwa koprasi berkembang dengan keterbukaan, sehingga liberalisasi perdagangan bukan musuh koprasi.
Di kawasan Asia Pasifik hal seruoa inni juga terjadi sehingga pada tahun 1990 di adakan Konferensi Pertama Para Mentri-Mentri yang bertanggung jawab di bidang koprasi di Sidney, Australia. Pertemuan ini adalah kejadian kali pertama untuk menjebatani aspirasi gerakan koprasi yang dimotori oleh ICA-Regional Of The Asian dan Pasific dengan pemerintah. Pertemuan ini telah melicinkan jalan bagi komunikasi dua arah dan menjadi pertemuan regional yang regular setelah Konverensi ke II di Jakarta pada tahun 1992. Pesan Jakarta yang terpenting adalah hubungan pemerintah dan gerakan koprasi terjadi karena kesamaan tujuan antara Negara dan gerakan koprasi, namun harus di ingat program bersama tidak harus mematikan inisiatif dan kemurnian koprasi. Pesan kedua adalah kerjasama antara koprasi dan swasta (secara khusus di sebut penjualan saham kepada koprasi) boleh di lakukan sepanjang tidak menimbulkan erosi pada prinsip dan nilai dasar koprasi.
Sejarah kelahiran koprasi di dunia yang melahirkan model-model keberhasilan umumnya berangkat dari 3 kutub besar: yaitu konsumen seperti di inggris, kredit seperti yang terjadi diPrancis dan Belanda kemudian produsen yang berkembang pesat di daratan Amerika namun di Eropa juga cukup maju, namun ketika koprasi-koprasi tersebut akhirnya mencapai kemajuan dapat di jelaskan bahwa pendapatan anggota yang di gambarkan oleh masyarakat pada umumnya telah melewati garis kemiskinan. Contoh pada saat Refolusi Industri pendapatan/anggota di Inggris sedah berada pada sekitar US$ 500,- atau di Demark pada saat revolusi pendidikan di mulai pendapatan per kapita di Demark berada pada kisaran US$ 350,-. Hal ini menunjukan betapa pentingnya dukungan belanja rumah tangga sebagai produsen maupun sebagai konsumen mampu menunjang kelayakan bisnis perusahaan koprasi. Pada akhirnya penjumlahan keseluruhan transaksi para anggota harus menghasilkan suatu volume penjualan yang mampu mendapatkan permintaan koprasi yang layak dalam hal ini di tentukan oleh rata-rrata tingkat pendapatan atau skala kegiatan ekonomi anggota.
 Syarat 1 : “skala usaha koprasi harus layak secara ekonomi”.
Didaratan Eropa koprasi tumbuh melalui koprasi kredit dan koprasi kredit dan koprasi konsumen yang kuat hingga di segani oleh berbagai kekuatan. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koprasi yakni “ Credit Agricole” di Prancis, RABO-Bank di Netherlands Nurichukin bank di Jepang dan lain-lain. Disamping itu hampir di setiap Negara menunjukan adanya koprasi kredit yang kuat seperti Credit Union di Amareka Utara dan lain-lain. Kredit sebagai kebutuhan universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah “potensial costomer-member” dari koprasi kredit.
Syarat 2 “harus memiliki kegiatan yang menjangkau kebutuhan masyarakat luas, kredit (simpan-pinjam) dapat menjadi platform dasar membutuhkan koprasi”
Di manapun baik di Negara berkembang maupun di Negara maju kita selalu di suguhkan contoh koprasi yang berhasil, namaun ada kesamaan universal yaitu koprasi peternak sapi perah dan koprasi produsen susu, selalu menjadi contoh sukses dimana-mana. Secara special  terdapat contoh yang alin seperti produksi gandum di daratan Australia, produsen kedele di Amereka Utara dan Selatan hingga petani tebu di India yang menyamai kartel produsen. Keberhasialan universal koprasi produsen susu, baik besar maupun kecil, di negra maju dan berkembang nampaknya terletak pada keserasian struktur pasar dengan kehadiran koprasi, dengan demikian koprasi terbukti merupakan kerjasama pasar yang tangguh untuk menghadapi ketidakadilan pasar. Corak ketergantungan yang tinggi kegiatan produksi yang teratur dan kontinyu menjadikan hubungan antara anggota dan koprasi sangat kukuh.
Syarat 3: “ pisisi koprasi produsen yang menghadapi dilemma bilateral monopoli menjadi akar memperkuat posisi tawar koprasi”.
Di Negara berkembang, temasuk Indonesia , transparansi structural tidak berjalan seperti yang di alami oleh negra industry di Barat, upah buruh dipedesaan secara rill telah naik ketika pengangguran meluas sehingga terjadi Lompatan ke sector jasa terutama sector usaha mikro dan internal (Oshima, 1982). Oleh karena itu memiliki kelompok penyedia jasa terutama di sektor perdagangan seperti warung dan pedagang pasar yang jumlahnya mencapai lebih dari 6 juta unit dan setiap hari memerlukan barang dagangan. Potensi sektor ini cukup besar, tetai belum ada referensi dari pengalaman dunia. Koprasi yang berhasil di bidang ritel di dunia adalah system pengadaan dan distribusi barang terutama di Negara-negra berkembang “user” atau anggotanya adalah para pedagang kecil sehingga model ini harus di kembangkan sendiri oleh Negara berkembang.
Koprasi selain sebagai organisasi ekonomi juga merupakan organisasi pendidikan dan pada awalnya  koprasi maju di topang oleh tingkat pendidikan anggotanya yang memudahkan lahirnya kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam system demokrasi dan timbulnya control  social yang menjadi syarat berlangsungnya pengawasan oleh anggota koprasi. Olehkarena itu kemajuan koprasi juga didasari oleh tingkat perkembangan pendidikan dari masyarakat dimana di perlukan koprasi. Pada saat ini masalah pendidikan dimana telah meningkat. Bahkan teknologi informasi telah turut mendidik masyarakat, meskipun juga ada dampak negatifnya.
Syarat 4 : “pendidikan dan peningkatan teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan kekuatan koprasi (pengembangan SDM)”.


Nama/NPM : Karlina Indah Purwanti/ 23211908
Kelas/TAHUN : 2EB09 / 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar